Marx, Antara Ideologi Politik dan Ilmu


Tiga puluh tahun lebih propaganda rezim Orde Baru (Orba) dan terror-teror lanjutan yang masih saja muncul hingga belakangan ini, betul-betul membikin ilmuan sedikit gentar atau malah jadi tidak peduli menulis atau mangaitkan Marx dengan teori-teori di dalam disiplin ilmunya meski demi kepentingan kelimuan. Keterbukaan pasca reformasi belum menunjukkan betul-betul kesadaran orang akan perbedaan mendasar Marxisme sebagai deologi politik dan sebagai paradigma ilmu.

Buku ini mencoba mengisi kekosongan perian tentang sumbangsih pemikiran Karl Marx terhadap antropologi sosial pada khususnya dan ilmu sosial pada umumnya. Dengan menggunakan kerangka atau model penulisan sejarah teori antroplogi, buku ini pertama-tama akan memaparkan sejarah hubungan antara Karl Marx dan Marxisme dengan antropolog serta sumbangsih yang bisa diambil dari oleh kedua-dua pihak. Juga diulas beberapa konsep dan teori pokok Marx yang berguna di dalam analisa antropologi. Dalam bukun ini akan didapati penjelasan terperinci bagaimana teori Marx dan teori para pelopor antroplogi bertaut dengan sangat erat hubungannya antara satu sama lainnya, dan seterusnya bagaimana di kemudian hari mereka terpisah lantaran kelanjutan dari perkembangannya.

CW Watson School of Business and Management, Institut Tehnologi Bandung (ITB),
Menuturkan dalam buku ini kita dituntun untuk memeriksa dan mempertimbangkan satu demi satu tentang materialisme, corak-corak produksi (modes of production), formasi social (social formation), kelas-kelas dan peranannya dan pertentangannya di tiap tahap pada sejarah manusia, juga kesimpulan Marx mengenai Negara dan perannya. 

Di mata Professor Emeritus Departement of Antropology, Kent University at Canterbury ini,
Dede Mulyanto, sebagai penulis dengan jelas mengtahui sejarah pertumbuhan teori-teori Marx dan Engels, sehingga dalam buku ini tidak membawa kita menelusuri jalan yang berliku-liku penuh dengan  polemik yang mewarnai pertumbuhan Marxisme. 

Itu bukan tujuannya walaupun mau tidak mau untuk menerangkan sebuah teori, ia harus memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh tertentu dan teorinya supaya kita memahami maksud Marx dan Engles.
Tujuannya ialah, menjelaskan ide-ide dasar Marx yang bukan saja penting sebagai bagian dari teori sejarah dan filsafat yang maha agung, tetapi sebagai gagasan yang meng-ilhami banyak antropolog belakangan ini dalam usaha mereka untuk mengerti (dan mengubah) kepincangan dan keidakadilan di dunia kini.**

Judul Buku                  :  Antropologi Marx
Penulis                        :  Dede Mulyanto
Jumlah Hal                   : 252 hlm+xx
Penerbit                       : Ultimus Bandung
Cetakan                        : Pertama/Mei 2011
Peresensi                     : Imron Supriyadi
Read More..

Ketika KAPITALISME menjadi ‘Agama’


Buku ini tentang kapitalisme sebagai sistem perekonomian paling dominan sekarang ini. Kapitalisme tidak hanya mempengaruhi cara bagaimana kegiatan produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang pemenuh kebutuhan hidup di organisasi. Kapitalisme juga meresap ke dalam hampir semua aspek kehidupan. Karena begitu dominan, kapitalisme tidak hanya tampak rasional, tetapi juga alamiah. Kapitalisme menjadi semacam bahasa universal sekarang ini. Ia menjadi panduan untuk mendifinisikan banyak hal, susunan keluarga yang sesuai, nilai sosial yang layak dituju di dalam hidup, hal yang layak diperjualbelikan lembaga pendidikan yang baik, sistem politik dan sebagainya.
Pertanyaannya, apakah kapitalisme sekadar perekonomian penimbunan kekayaan demi kekayaan itu sendiri saja? Apakah yang membedakan kapitalisme dengan sistem perekonomian lainnya? Lebih lanjut, karena inti perekonomian kapitalisme ialah kapital, apa itu sebetulnya kapital? Apakah ia sekadar kumpulan harta dalam bentuk uang atau barang yang diperoleh dari kegiatan usaha? Bagaimana kapital tercipta dan terakumulasi? Apa saja tampilan historis akumulasi kapital? Pertanyaann ini merupakan kunci memahami kapitalisme hingga sekarang ini dua cirri mendasarnya belumlah berubah.(tim)


Judul Buku                  : Kapitalisme
                                      (Perspektif Sosio-Historis)
Penulis                        : Dede Mulyanto
Jumlah Hal                   : 200 hlm+viii
Penerbit                       : Ultimus Bandung
Cetakan                        : Pertama/Agustus 2010
Peresensi                     : Imron S
                                     
Read More..

Lomba Foto ‘Merapi Sahabatku’


Gunung Merapi telah begitu banyak memberi dan menginspirasi kehidupan kita. Gunung Merapi bukan ancaman kita. Bukan musuh kita. Bukan sumber ketakutan kita. Gunung Merapi adalah sahabat kita semua. Untuk merayakan persahabatan dengan Gunung Merapi, The Cangkringan Jogja Villas & Spa bekerjasama dengan JTC Jogja Tanggap Cepat menyelenggarakan Lomba Foto “Merapi Sahabatku”.
Ketentuan lomba:
1. Lomba terbuka untuk umum dengan obyek foto: Aktifitas masyarakat umum atau situasi umum dengan latar belakang Gunung Merapi (tahun pemotretan antara 2005-2010), dihasilkan dari kamera analog maupun digital.
2. Foto dikirim dalam bentuk cetakan dengan sisi panjang minimal 25cm, maksimal 30cm; disertai keterangan waktu pemotretan dan keterangan situasi dan lokasi.
3. Model release menjadi tanggung jawab fotografer sepenuhnya.
4. Manipulasi foto hanya boleh sebatas: dodging, burning dan cropping.
5. Setiap peserta lomba dapat mengirimkan maksimal 5 karya foto.
6. Karya foto dikirimkan langsung atau via pos ke alamat: Jogja Gallery, Jl. Pekapalan No. 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta.
7. Batas waktu penerimaan karya foto: Selasa, 14 Desember 2010 pukul 15.00 wib.
8. Penjurian akan dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2010 dan pemenang akan diumumkan pada tanggal 17 Desember 2010. Dewan Juri: Johnny Hendarta, Edial Rusli dan Pamungkas PW.
9. Total hadiah yang disediakan sebesar Rp. 50.000.000,00:
Juara I: Rp. 10.000.000,00,
Juara II: Rp. 7.500.000,00,
Juara III: Rp. 5.000.000,00
dan 11 Juara harapan @ Rp. 2.500.000,00.
10. Penyerahan hadiah dan pembukaan pameran diselenggarakan pada tanggal 26 Desember 2010 pukul 10.000 wib bertempat di Cangkringan Jogja Villas & Spa.
11. Karya foto yang diikutsertakan dalam lomba ini tidak akan dikembalikan.
12. Foto-foto pemenang menjadi hak penyelenggara sepenuhnya dan wajib menyerahkan negatif atau file asli.
13. Akan dipilih 50 foto yang akan diterbitkan dalam bentuk Buku Kenangan.
14. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Foto : Dapunta.COm/AFP
Read More..

PENERBITAN MAHASISWA, SEBAGAI UPAYA DALAM MENCIPTAKAN EKONOMI KREATIF

PENERBITAN MAHASISWA,
SEBAGAI UPAYA DALAM MENCIPTAKAN EKONOMI KREATIF*)
Oleh Imron Supriyadi**)

A. BACKGROUND
Fenomena pengangguran dan kemiskinan seakan tak kunjung henti. Bukan saja di daerah, melainkan sudah menjadi persoalan nasional, yang berdasa warsa. Kemiskinan dan pengangguran, merupakan dua realitas yang keduanya muncul hampir selalu bersamaan. Tetapi pertanyaannya adalah; kemiskinan yang kemudian mengakibatkan pengangguran, atau pengangguran yang menimbulkan kemiskinan. Agak sulit menjawabnya. Sebab keduanya sering muncul seperti pantun bersahut. Di satu pihak, keluarga menjadi miskin karena anggota keluarganya menganggur, dan di pihak lain, orang menganggur akibat lahir dari keluarga miskin dan tak mempunyai kesempatan mengeyam pendidikan yang layak.

Terlepas dari perdebatan itu, ada beberapa hal yang kemudian secara sadar atau tidak, telah menimbulkan pengangguran. Pertama, disebabkan proses industrialisasi dan modernisasi. Proses ini acap kali berakibat pada proyek penggusuran besar-besaran terhadap sebuah komunitas, baik yang berada di desa, atau juga di pinggiran kota. Akibat langsung yang muncul kemudian adalah, ribuan kepala keluarga harus kehilangan mata pencaharian. Kenapa? Karena tanah mereka diserobot sebuah perusahaan besar, atau memang sengaja “dipaksa” harus dijual karena ada tekanan dari sebuah otoritas daerah.

Realitas ini sebagai bukti nyata, bahwa industrialisasi dan modernisasi juga turut memberi andil dalam menciptakan kesenjangan sosial. Betapa tidak? Perluasan wilayah pembangunan fisik, sebut saja Pabrik Minyak, Tambang Batubara, Mall, Hyermarket, Hotel dan pusat-pusat pembelajaan besar lainnya, secara langsung atau tidak telah mencerabut “wilayah kerja” pedagang kecil (PK-5), yang sebelumnya dapat menghidupi masyarakat sekitar. Logikanya, dengan perkembangan zaman dan modernisasi, seharusnya masyarakat sekitar yang notabene pemilik wilayah, taraf hidupnya makin meningkat bukan malah sebaliknya. Tetapi apa yang terjadi kemudian, penduduk asli, justeru tergusur di pinggir-pinggir kota tanpa daya. Sementara, mercusuar di tengah kota terus menancapkan taring-taringnya untuk melakukan perluasan bisnisnya.

Kedua, proses Urbanisasi. Penyebab kemiskinan dan pengangguran yang kedua ini, sebenarnya sebagai akibat dari proses industrialisasi dan modernisasi. Karena mereka tidak dapat mengimbangi ketatnya persaingan dalam penguasaan teknologi di beberapa perusahaan, yang memperluas jaringan kerjanya di kawasan pedesaan, sebagian masyarakat kemudian “berlari” menuju ke ke kota-kota besar, dengan harapan mereka dapat hidup lebih layak. Tetapi toh apa yang kemudian terjadi, proses Urbanisasi dari desa ke kota ini justeru berbalik arah. Hidup kaum urban tidak semakin baik, melainkan persoalan sosial di kota-kota besar makin bertambah. Akan bagaimana nasib seseorang jika pergi ke kota tanpa dibekali dengan skill atau keahlian tertentu dan hanya dengan modal nekad?. Bagaimana akan mendapat hidup layak, jika untuk menghidupi dirinya sendiri belum mampu. Ini juga menjadi salah satu penyebab, kenapa jumlah pengangguran dan kemiskinan bertambah.

Ketiga, sistem di Pergurajn Tinggi. Persoalan lain yang menjadi “mesin cetak” pengangguran, adalah Perguruan Tinggi. Bagaimana tidak? Dalam setiap tahun, berapa ratus sarjana diwisuda, tanpa mengetahui akan menjadi apa mereka setelah mendapat Ijazah. Dari kasus seperti inilah, sering muncul seloroh, STTB bukan Surat Tanda Tamat Belajar, tetapi menjadi Sudah Tamat Tambah Binggung, sama persis seperti nasib sarjana yang baru saja diwisuda kemudian binggung mencari kerja.

Kondisi kronis yang melanda para alumnus Perguruan Tinggi (PT) ini, bukan baru terjadi satu atau dua bulan terakhir, melainkan sudah menyejarah. Dari rezim Soeharto sampai Susilo Bambang Yudhoyono, kurikulum di PT memang tidak praktis aplikatif, atau tidak mendorong mahasiswa dan alumninya, dapat mencipta lapangan kerja, melainkan dididik untuk mencari lapangan kerja. Jika ini yang terjadi, maka jelas PT juga turut menyumbangkan jumlah pengangguran di negeri ini.

B. SEKILAS CATATAN PENGANGGURAN
Situasi meningkatnya jumlah keluarga miskin dan pengangguran inilah, baik pengangguran intelektual atau pegangguran murni, yang kemudian menggelitik beberapa pengamat untuk kemudian mengritisi program masa lalu, yang menurutnya harus direvisi ulang. Tentu tidak harus membuang, namun harus ada semacam evaluasi untuk menjawab, mengapa program pengentasan kemiskinan dan pengangguran sebelumnya ini tidak berjalan secara efektif. Pun demikian halnya, mengapa Perguruan Tinggi yang menjadi embrio dalam membangun mentalitas enterpreuner dan mendorong terciptanya ekonomi kreatif tidak juga bergeming dari sistem yang cenderung akademis murni? Akibatnya, para alumnus di berbagai perguruan tinggi, lebih memilih menjadi ‘penunggu’ dibukanya lapangan kerja, dan bukan malah berupaya membuka lapangan kerja sendiri, dengan menggali potensi kreatifitas yang ada dalam dirinya.

Fenomena kebingungan para alumnus Perguruan Tinggi dalam menggali potensi dirinya, sebagai akibat indoktrisasi mata kuliah di kampus-kampus, yang cenderung sistemik dan formalistis. Hampir dapat dikatakan, sebagian dosen benar-benar menjadi pengajar, dan bukan menjadi pendidik, yang dapat membuka wacana pikir terhadap mahasiswa, tentang bagaimana seharusnya menjadi alumnus yang bisa berdikari setelah mereka selesai dari bangku kuliah.

Bila kita menyimak sekilas jumlah pengagguran, hati kita patut prihatin. Data Bank Dunia (Word Bank) menyebutkan tentang jumlah masyarakat miskin dan jumlah pengangguran di Indonesia, khususnya di Sumsel. Sebagaimana dilansir media, dua tahun lalu (2005) data Bank Dunia menyebutkan, jumlah orang miskin di negeri ini, sebanyak 110 juta jiwa. Sementara jumlah pengangguran mencapai 40 juta lebih. Di Sumsel tahun 2005 ada sekitar 1, 3 juta atau 21 persen penduduk miskin dan pada tahun 2007 sudah bertambah 10 persen, bahkan bila diteliti ulang jumlah ini bisa lebih besar. Sementara jumlah pengangguran tidak kentara ; (disquesed unemployment), dan setengah pengangguran dan pengangguran bentuk lain, juga belum terdata secara akurat, termasuk di dalamnya para alumni Perguruan Tinggi di Sumatera Selatan, yang hingga saat ini juga masih menjadi bagian pengangguran intelektual.

C. PENERBITAN MAHASISWA ALTERNATIF SOLUSI
Menyimak realitas tersebut, sepertinya memang perlu melakukan evaluasi dan menyolusi terhadap upaya pengurangan jumlah keluarga miskin dan pengangguran, terutama para pegangguran intelektual, yang notabene produk dari intitusi pendidikan di perguruan tinggi.

Pemberdayaan Penerbitan Mahasiswa
Sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM), bisa menjadi embrio lahirnya para penulis dan jurnalis muda, yang dalam kurun waktu 10 tahun mendatang karyanya dapat bersejajar dengan para penulis lain di Indonesia. Pernyataan ini sama sekali bukan sebatas utopia atau hayalan belaka. Namun ini sudah menjadi fakta sejarah, betapa Penerbitan Mahasiswa telah banyak memberi kontribusi terhadap upaya pengurangan pengangguran dengan menciptakan ekonomi kreatif bagi para alumnus-nya. Intinya, melalui penerbitan mahasiswa, sudah melahirkan kader-kader penulis dan jurnalis (wartawan), yang kini dapat dilihat buktinya. Harian Umum Sriwjaya Post, Sumatera Ekspres, Berita Pagi, Radio Trijaya, Radio Smart FM, dan institusi pers di kota-kota besar lainnya, hampir 40-50 persen didominasi oleh alumnus Perguruan Tinggi, yang sebelumnya mereka juga digodok dan diasah kreatifitasnya di Lembaga Penerbitan Mahasiswa.

Penerbitan Mahasiswa, selain telah melahirkan wartawan, Penerbitan Mahasiswa juga telah melahirkan penulis-penulis muda, yang dengan karyanya mereka bisa hidup tanpa harus menggantungkan dengan lamaran pegawai negeri sipil, atau harus menunggu sampai berdasa warsa diterimanya sebagai karyawan perusahaan tertentu. Melamar pekerjaan sambil menunggu jawaban dari intitusi yang dituju memang bukan satu dosa. Tetapi berdiam diri tanpa ada upaya menggali potensi untuk terus berdikari di kaki sendiri, merupakan sikap yang kontra produktif dengan cita-cita sebuah Perguran Tinggi, sebagai ‘mesin cetak’ para intelektual muda. Menunggu tanpa menggali potensi diri, sama saja mengingkari fitrah manusia, yang telah tercipta dengan jutaan potensi dan dalam bentuk yang sempurna. (fii ahsani taqwiim).

Melalui Penerbitan Mahasiswa, akan membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya bagi aktifis pers mahasiswa yaang sadar dengan potensi itu. Hampir bisa dikatakan, semua kampus perguruan tinggi memiliki para pakar pendidikan yang bukan saja S.2, tetapi S3 atau bahkan profesor. Dari sini kita kemudian muncul pertanyaan? Bagaimana karya para profesor ini bisa dijadikan sebagai upaya dalam menciptakan ekonomi kreatif bagi para mahasiswa dan para alumnus, yang mungkin saat ini masih belum mendapat pekerjaan?
Jawabnya sangat sederhana. Kita mau memulai atau tidak. Jumlah tulisan para profesor, bisa kita kumpulkan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Untuk kemudian penerbitan mahasiswa bisa melakukan kerjasama dengan penerbit, atau bahkan diterbitkan sendiri. Untuk kemudian, kumpulan tulisan para profesor itu akan menjadi sebuah buku ilmiah, yang layak jual berstandar nasional, dengan dilengkapi Indeks Standar Book Number (ISBN).

Selain karya ilmiah dari para profesor, Penerbitan Mahasiswa juga bisa menjadi fasilitator dalam pengumpulan teks khutbah Jumat dari para khotib, yang teks khutbahnya ditulis sendiri. Yang menjadi ironis adalah, sebagian diantara kita (terutama alumnus IAIN) hampir mayoritas lebih memilih membaca teks khutbah orang lain, dari pada harus menulis dan membuat analisa sendiri . Padahal, teks khutbah Jumat merupakan potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Jika kita hitung secara matematik, dalam satu tahun, dari setiap masjid bisa menghasilkan 48 judul khutbah Jumat. Dari 48 judul ini, bila dibuat buku kumpulan Khutbah Jumat bisa dibuat dua atau bahkan tiga buku. Kalau satu masjid saja bisa menghasilkan 48 judul, lalu bagaimama jika penerbitan mahasiswa juga mengelola dan mengumpulkan teks khutbah Jumat dari 10 masjid? Akan berapa banyak buku kumpulan khutbah Jumat yang diterbitkan oleh penerbitan mahasiswa di kampus IAIN? Sungguh! Ini adalah sebuah potensi besar yang selama ini mungkin kita abaikan.

Dari konteks ini, ada sebuah pertanyaan? Dari mana para penggiat penerbitan mahasiswa mendapat keuntungan? Sudah menjadi hukum alam. Setiap penerbitan buku, jelas akan melibatkan banyak pihak. Sejak dari pengumpul naskah, desain sampul / tenaga grafis-tata letak (lay out) atau bahkan editor? Semua itu adalah peluang bagi para mahasiswa dan alumnus untuk mencoba bangkit dan berdiri di kaki sendiri, dengan menciptakan ekonomi kreatif melalui penerbitan mahasiswa. Bila ini bisa dilakukan, siapapun yang baru saja menyelesaikan kuliah dari perguruan tinggi, tidak pernah akan bingung mencari peluang kerja. Atau bagi para dosen, tidak harus pusing menjual diktat dan tawar menawar nilai kepada mahasiswa, untuk sekedar mencari tambahan, diluar gaji bulanan. Kenapa? Sebab, peluang kerja itu sebenarnya sudah sedemikian luas dibentangkan oleh sang pemilik bumi, Allah Robul Jaliil. Hanya saja sebagian diantara kita tidak sesering mungkin memutar otak dengan menciptakan kreatifitas kerja, yang sebenarnya menjadi bagian dari ke-khalifahan manusia itu sendiri.

Keuntungan Material & Immaterial
Sangat jelas. Dengan munculnya banyak penerbitan yang dilahirkan dari kampus ini, minimal akan mendapat dua keuntungan, material dan immaterial. Secara material, sang penulis akan mendapat royalti sekecil-kecilnya, minimal 12, 5 persen dari penjualan satu buku. Editor, pengumpul naskah, tim kreatif, desain sampul juga akan mendapat royalti 5, 5 persen dari hasil penjualan buku. Jumlah keuntungan ini hanya diambil dari data umum yang sudah diberlakukan di beberapa penerbit. Keuntungan ini baru diambil dari hasil penjualan satu buku. Jauh lebih besar dari itu, sebuah penerbitan mahasiswa bisa menjalin kerjasama dengan institusi lain, seperti PT. Pusri, PT. Pertamina atau PT. Tambang Batubara, atau dengan lembaga lain yang konsen terhadap upaya pencerdasan bangsa melalui penerbitan buku. Dari lembaga-lembaga donor inilah, diluar keuntungan dari hasil penjualan buku, semua tim kreatif yang turut menyusun penerbitan sudah pasti akan mendapat tambahan insentif secara profesional.

Keuntungan immaterial. Kampus Perguruan Tinggi, sebagai institusi yang ikut menerbitkan buku, secara perlahan nilai jualnya akan muncul dipermukaan. Dengan sendirinya, penerbitan mahasiswa--sekaligus akan menaikkan posisi tawar sebuah perguruan tinggi di mata publik. Sebab satu hal yang sering terlupa, ukuran atau standar kualitas intelektual sebuah perguruan tinggi, adalah bagaimana, dan berapa banyak penerbitan karya ilmiah yang sudah diterbitkan? Tentu pertanyaan ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah perguruan tinggi, atau bagi penerbitan mahasiswa, yang bukan hanya konsen untuk menerbitkan majalah, tetapi lebih dari itu bisa membantu proses dinamisasi intelektual di kalangan mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia ini, sudah tentu memerlukan kerjasama. Bukan sama-sama kerja. Sekali lagi, yang dibutuhkan kerjasama bukan sama-sama kerja. Intitusi perguruan tinggi, sebagai lembaga yang memiliki otoritas dalam mengalokasikan dana bagi setiap UKM dan UKK, perlu ada sharing antar penerbitan mahasiswa dan dengan pihak lain yang bisa diajak kerjasama..

Penerbitan mahasiswa, sebagai lembaga yang konsen dalam penerbitan juga menyusun Rancangan Anggaran Biaya (RAB), dalam setiap tahun, baik anggaran penerbitan majalah secara berkala, atau penerbitan buku bagi para dosen. Pentingnya hal ini, akan memudahkan Perguruan Tinggi untuk mengalokasikan dana rutin bagi setiap UKM dan UKK. Namun demikian, Lembaga Penerbitan Mahasiswa tidak serta merta harus tergantung dengan Perguraun Tinggi. Sebab, media (majalah, koran, bulettin), yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan mahasiswa, merupakan potensi besar untuk menggali keuntungan iklan sebanyak-banyaknya. Tentu, tanpa harus meninggalkan pesan moral dan muatan intelektual.

Mengapa ini penting? Sebab, menggantungkan penerbitan hanya dengan anggaran dana perguruan tinggi, maka sebuah Lembaga Penerbitan Mahasiswa, atau penerbitan lain yang ada di dalam kampus, seperti pusat penelitian dan sejenisnya, hanya akan menjadi gudang tesis, desertasi, majalah berkala, yang sama sekali tidak akan memiliki nilai jual. Padahal, jika semua itu digarap dan diolah sedemikain rupa, bukan tidak mungkin institusi perguruan tinggi, seperti IAIN Raden Fatah, akan memunculkan badan usaha baru, yang bergerak dalam penerbitan buku. Kalau satu buah buku saja masing-masing tim kerja mendapat keuntungan materi? Bagaimana jika penerbitan mahasiswa ini juga diberdayakan sebagai lembaga penerbit buku yang secara periodik menerbitkan karya ilmiah yang layak jual di pasaran? Kalkulasi sederhana, seorang editor buku dalam satu bulannya bisa menghasilkan Rp. 10 juta per bulan dari hasil jerih payahnya. Bagaimana dengan para penulisnya? Tentu jauh lebih besar dari itu. Apakah ini bisa dilakukan? Persoalannya adalah, tinggal kita : mau atau tidak?!

Kapan akan memulai?
Upaya menciptakan ekonomi kreatif yang sering digulirkan Presiden SBY ini, sebenarnya bisa dilakukan jauh sebelum forum ini diselenggarakan. Masalahnya kemudian adalah, kita sering berpikir pragmatis. Hari ini menulis, hari ini juga harus mendapat uang. Logika seperti ini, hanya akan layak diterapkan bagi jual beli buah-buah-an atau jual beli ikan asin. Sementara, menjual buku, menjual karya ilmiah membutuhakn energi, strategi dan waktu yang cukup panjang. Bagi dunia bisnis penerbitan, bukan hari ini untuk hari ini, tetapi hari ini untuk seumur hidup. Sebab, karya ilmiah dalam bentuk buku, bukan hanya generasi terkini saja yang dapat menikmati dan membeli. Tetapi sepanjang sejarah dan putaran waktu, bila karya kita bermanfaat bagi orang banyak, maka sudah pasti bau harum karya itu akan tetap abadi walau kita sudah berkalang tanah. Masalahnya kemudian, kapan kita akan memulai, untuk mengusir musuh besar kita yang bernama kemalasan? Jawabnya ada dalam diri kita masing-masing. (*)

BIODATA SINGKAT

IMRON SUPRIYADI. Lahir di Magelang, Jawa Tengah 18 Mei 1973. Selama 12 tahun tinggal di Palembang. Alumnus Fak. Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang 1998. Atif menulis sejak tahun 1993 sejak bergabung di Majalah Ukhuwah IAIN RF. Kolom, Cerpen, Essay, Opini pernah dimuat di beberapa media di Palembang dan media ibu kota Jakarta dan cyber sastra : www.ceritanet.com. Sekarang mengelola Yayasan Pendidikan Islam dan Majalah Anak Seolah “Bintang Pelajar” di Muara Enim—kerjasama dengan Yayasan Keluarga Besar Bukit Asam (YAKASABA) dan Penerbit CV. Tunas Gemilang Palembang. Atifitas lain, mengelola Teater di Tanjung Enim. Sekarang sedang persiapan menggarap film pendidikan durasi 30 menit dengan judul “Sekolah di Di Dalam WC” kerjasama BS Studio dan Batu Hitam Production di Tanjung Enim.

Karya Buku : (Sebagian masih dalam proses editing penerbit)

1. Kumpulan Cerpen “Sedang Tuhan Pun Bisa Mati” (Tenggala Press : 2003)
2. Kumpulan Cerpen “Ketika Iblis Membentangkan Sajadah” (Batuhitam Press : 2004)
3. Novel “Ustdaz di Kampung Maling” (Tunas Gemilang : 2006-2007).
4. Novel “Jilbab Tak Bertuhan” (Tunas Gemilang : 2006)
5. Jurnal “Nikmatnya Mengurus Masjid” (La-Tansa-PTBA – proses editing)
6. Remaja Masjid, tanggung Jawab Siapa? (YNI Press-proses editing)
7. “Islam dan Anak Jalanan” (diolah dari Skripsi - Tunas Gemilang : 2006)
8. Jurnal Khutbah Jumat “Menuju Masyarakat Madani” (PTBA – proses editing)
9. Menjadi Kaya dari Menulis (Tunas Gemilang : 2007)
10. Belajar Jurnalistik itu Gampang (Amik Rama : 2007)
11. Dan lain-lain dalam bentuk naskah Drama, Film dan Sinetron.

**) Disampaikan pada acara Pelantikan LPM Ukhuwah IAIN, 20 Januari 2008 di Aditorium IAIN RF Palembang.
.

PENERBITAN MAHASISWA,
SEBAGAI UPAYA DALAM MENCIPTAKAN EKONOMI KREATIF*)
Oleh Imron Supriyadi**)

A. BACKGROUND
Fenomena pengangguran dan kemiskinan seakan tak kunjung henti. Bukan saja di daerah, melainkan sudah menjadi persoalan nasional, yang berdasa warsa. Kemiskinan dan pengangguran, merupakan dua realitas yang keduanya muncul hampir selalu bersamaan. Tetapi pertanyaannya adalah; kemiskinan yang kemudian mengakibatkan pengangguran, atau pengangguran yang menimbulkan kemiskinan. Agak sulit menjawabnya. Sebab keduanya sering muncul seperti pantun bersahut. Di satu pihak, keluarga menjadi miskin karena anggota keluarganya menganggur, dan di pihak lain, orang menganggur akibat lahir dari keluarga miskin dan tak mempunyai kesempatan mengeyam pendidikan yang layak.

Terlepas dari perdebatan itu, ada beberapa hal yang kemudian secara sadar atau tidak, telah menimbulkan pengangguran. Pertama, disebabkan proses industrialisasi dan modernisasi. Proses ini acap kali berakibat pada proyek penggusuran besar-besaran terhadap sebuah komunitas, baik yang berada di desa, atau juga di pinggiran kota. Akibat langsung yang muncul kemudian adalah, ribuan kepala keluarga harus kehilangan mata pencaharian. Kenapa? Karena tanah mereka diserobot sebuah perusahaan besar, atau memang sengaja “dipaksa” harus dijual karena ada tekanan dari sebuah otoritas daerah.

Realitas ini sebagai bukti nyata, bahwa industrialisasi dan modernisasi juga turut memberi andil dalam menciptakan kesenjangan sosial. Betapa tidak? Perluasan wilayah pembangunan fisik, sebut saja Pabrik Minyak, Tambang Batubara, Mall, Hyermarket, Hotel dan pusat-pusat pembelajaan besar lainnya, secara langsung atau tidak telah mencerabut “wilayah kerja” pedagang kecil (PK-5), yang sebelumnya dapat menghidupi masyarakat sekitar. Logikanya, dengan perkembangan zaman dan modernisasi, seharusnya masyarakat sekitar yang notabene pemilik wilayah, taraf hidupnya makin meningkat bukan malah sebaliknya. Tetapi apa yang terjadi kemudian, penduduk asli, justeru tergusur di pinggir-pinggir kota tanpa daya. Sementara, mercusuar di tengah kota terus menancapkan taring-taringnya untuk melakukan perluasan bisnisnya.

Kedua, proses Urbanisasi. Penyebab kemiskinan dan pengangguran yang kedua ini, sebenarnya sebagai akibat dari proses industrialisasi dan modernisasi. Karena mereka tidak dapat mengimbangi ketatnya persaingan dalam penguasaan teknologi di beberapa perusahaan, yang memperluas jaringan kerjanya di kawasan pedesaan, sebagian masyarakat kemudian “berlari” menuju ke ke kota-kota besar, dengan harapan mereka dapat hidup lebih layak. Tetapi toh apa yang kemudian terjadi, proses Urbanisasi dari desa ke kota ini justeru berbalik arah. Hidup kaum urban tidak semakin baik, melainkan persoalan sosial di kota-kota besar makin bertambah. Akan bagaimana nasib seseorang jika pergi ke kota tanpa dibekali dengan skill atau keahlian tertentu dan hanya dengan modal nekad?. Bagaimana akan mendapat hidup layak, jika untuk menghidupi dirinya sendiri belum mampu. Ini juga menjadi salah satu penyebab, kenapa jumlah pengangguran dan kemiskinan bertambah.

Ketiga, sistem di Pergurajn Tinggi. Persoalan lain yang menjadi “mesin cetak” pengangguran, adalah Perguruan Tinggi. Bagaimana tidak? Dalam setiap tahun, berapa ratus sarjana diwisuda, tanpa mengetahui akan menjadi apa mereka setelah mendapat Ijazah. Dari kasus seperti inilah, sering muncul seloroh, STTB bukan Surat Tanda Tamat Belajar, tetapi menjadi Sudah Tamat Tambah Binggung, sama persis seperti nasib sarjana yang baru saja diwisuda kemudian binggung mencari kerja.

Kondisi kronis yang melanda para alumnus Perguruan Tinggi (PT) ini, bukan baru terjadi satu atau dua bulan terakhir, melainkan sudah menyejarah. Dari rezim Soeharto sampai Susilo Bambang Yudhoyono, kurikulum di PT memang tidak praktis aplikatif, atau tidak mendorong mahasiswa dan alumninya, dapat mencipta lapangan kerja, melainkan dididik untuk mencari lapangan kerja. Jika ini yang terjadi, maka jelas PT juga turut menyumbangkan jumlah pengangguran di negeri ini.

B. SEKILAS CATATAN PENGANGGURAN
Situasi meningkatnya jumlah keluarga miskin dan pengangguran inilah, baik pengangguran intelektual atau pegangguran murni, yang kemudian menggelitik beberapa pengamat untuk kemudian mengritisi program masa lalu, yang menurutnya harus direvisi ulang. Tentu tidak harus membuang, namun harus ada semacam evaluasi untuk menjawab, mengapa program pengentasan kemiskinan dan pengangguran sebelumnya ini tidak berjalan secara efektif. Pun demikian halnya, mengapa Perguruan Tinggi yang menjadi embrio dalam membangun mentalitas enterpreuner dan mendorong terciptanya ekonomi kreatif tidak juga bergeming dari sistem yang cenderung akademis murni? Akibatnya, para alumnus di berbagai perguruan tinggi, lebih memilih menjadi ‘penunggu’ dibukanya lapangan kerja, dan bukan malah berupaya membuka lapangan kerja sendiri, dengan menggali potensi kreatifitas yang ada dalam dirinya.

Fenomena kebingungan para alumnus Perguruan Tinggi dalam menggali potensi dirinya, sebagai akibat indoktrisasi mata kuliah di kampus-kampus, yang cenderung sistemik dan formalistis. Hampir dapat dikatakan, sebagian dosen benar-benar menjadi pengajar, dan bukan menjadi pendidik, yang dapat membuka wacana pikir terhadap mahasiswa, tentang bagaimana seharusnya menjadi alumnus yang bisa berdikari setelah mereka selesai dari bangku kuliah.

Bila kita menyimak sekilas jumlah pengagguran, hati kita patut prihatin. Data Bank Dunia (Word Bank) menyebutkan tentang jumlah masyarakat miskin dan jumlah pengangguran di Indonesia, khususnya di Sumsel. Sebagaimana dilansir media, dua tahun lalu (2005) data Bank Dunia menyebutkan, jumlah orang miskin di negeri ini, sebanyak 110 juta jiwa. Sementara jumlah pengangguran mencapai 40 juta lebih. Di Sumsel tahun 2005 ada sekitar 1, 3 juta atau 21 persen penduduk miskin dan pada tahun 2007 sudah bertambah 10 persen, bahkan bila diteliti ulang jumlah ini bisa lebih besar. Sementara jumlah pengangguran tidak kentara ; (disquesed unemployment), dan setengah pengangguran dan pengangguran bentuk lain, juga belum terdata secara akurat, termasuk di dalamnya para alumni Perguruan Tinggi di Sumatera Selatan, yang hingga saat ini juga masih menjadi bagian pengangguran intelektual.

C. PENERBITAN MAHASISWA ALTERNATIF SOLUSI
Menyimak realitas tersebut, sepertinya memang perlu melakukan evaluasi dan menyolusi terhadap upaya pengurangan jumlah keluarga miskin dan pengangguran, terutama para pegangguran intelektual, yang notabene produk dari intitusi pendidikan di perguruan tinggi.

Pemberdayaan Penerbitan Mahasiswa
Sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM), bisa menjadi embrio lahirnya para penulis dan jurnalis muda, yang dalam kurun waktu 10 tahun mendatang karyanya dapat bersejajar dengan para penulis lain di Indonesia. Pernyataan ini sama sekali bukan sebatas utopia atau hayalan belaka. Namun ini sudah menjadi fakta sejarah, betapa Penerbitan Mahasiswa telah banyak memberi kontribusi terhadap upaya pengurangan pengangguran dengan menciptakan ekonomi kreatif bagi para alumnus-nya. Intinya, melalui penerbitan mahasiswa, sudah melahirkan kader-kader penulis dan jurnalis (wartawan), yang kini dapat dilihat buktinya. Harian Umum Sriwjaya Post, Sumatera Ekspres, Berita Pagi, Radio Trijaya, Radio Smart FM, dan institusi pers di kota-kota besar lainnya, hampir 40-50 persen didominasi oleh alumnus Perguruan Tinggi, yang sebelumnya mereka juga digodok dan diasah kreatifitasnya di Lembaga Penerbitan Mahasiswa.

Penerbitan Mahasiswa, selain telah melahirkan wartawan, Penerbitan Mahasiswa juga telah melahirkan penulis-penulis muda, yang dengan karyanya mereka bisa hidup tanpa harus menggantungkan dengan lamaran pegawai negeri sipil, atau harus menunggu sampai berdasa warsa diterimanya sebagai karyawan perusahaan tertentu. Melamar pekerjaan sambil menunggu jawaban dari intitusi yang dituju memang bukan satu dosa. Tetapi berdiam diri tanpa ada upaya menggali potensi untuk terus berdikari di kaki sendiri, merupakan sikap yang kontra produktif dengan cita-cita sebuah Perguran Tinggi, sebagai ‘mesin cetak’ para intelektual muda. Menunggu tanpa menggali potensi diri, sama saja mengingkari fitrah manusia, yang telah tercipta dengan jutaan potensi dan dalam bentuk yang sempurna. (fii ahsani taqwiim).

Melalui Penerbitan Mahasiswa, akan membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya bagi aktifis pers mahasiswa yaang sadar dengan potensi itu. Hampir bisa dikatakan, semua kampus perguruan tinggi memiliki para pakar pendidikan yang bukan saja S.2, tetapi S3 atau bahkan profesor. Dari sini kita kemudian muncul pertanyaan? Bagaimana karya para profesor ini bisa dijadikan sebagai upaya dalam menciptakan ekonomi kreatif bagi para mahasiswa dan para alumnus, yang mungkin saat ini masih belum mendapat pekerjaan?
Jawabnya sangat sederhana. Kita mau memulai atau tidak. Jumlah tulisan para profesor, bisa kita kumpulkan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Untuk kemudian penerbitan mahasiswa bisa melakukan kerjasama dengan penerbit, atau bahkan diterbitkan sendiri. Untuk kemudian, kumpulan tulisan para profesor itu akan menjadi sebuah buku ilmiah, yang layak jual berstandar nasional, dengan dilengkapi Indeks Standar Book Number (ISBN).

Selain karya ilmiah dari para profesor, Penerbitan Mahasiswa juga bisa menjadi fasilitator dalam pengumpulan teks khutbah Jumat dari para khotib, yang teks khutbahnya ditulis sendiri. Yang menjadi ironis adalah, sebagian diantara kita (terutama alumnus IAIN) hampir mayoritas lebih memilih membaca teks khutbah orang lain, dari pada harus menulis dan membuat analisa sendiri . Padahal, teks khutbah Jumat merupakan potensi besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Jika kita hitung secara matematik, dalam satu tahun, dari setiap masjid bisa menghasilkan 48 judul khutbah Jumat. Dari 48 judul ini, bila dibuat buku kumpulan Khutbah Jumat bisa dibuat dua atau bahkan tiga buku. Kalau satu masjid saja bisa menghasilkan 48 judul, lalu bagaimama jika penerbitan mahasiswa juga mengelola dan mengumpulkan teks khutbah Jumat dari 10 masjid? Akan berapa banyak buku kumpulan khutbah Jumat yang diterbitkan oleh penerbitan mahasiswa di kampus IAIN? Sungguh! Ini adalah sebuah potensi besar yang selama ini mungkin kita abaikan.

Dari konteks ini, ada sebuah pertanyaan? Dari mana para penggiat penerbitan mahasiswa mendapat keuntungan? Sudah menjadi hukum alam. Setiap penerbitan buku, jelas akan melibatkan banyak pihak. Sejak dari pengumpul naskah, desain sampul / tenaga grafis-tata letak (lay out) atau bahkan editor? Semua itu adalah peluang bagi para mahasiswa dan alumnus untuk mencoba bangkit dan berdiri di kaki sendiri, dengan menciptakan ekonomi kreatif melalui penerbitan mahasiswa. Bila ini bisa dilakukan, siapapun yang baru saja menyelesaikan kuliah dari perguruan tinggi, tidak pernah akan bingung mencari peluang kerja. Atau bagi para dosen, tidak harus pusing menjual diktat dan tawar menawar nilai kepada mahasiswa, untuk sekedar mencari tambahan, diluar gaji bulanan. Kenapa? Sebab, peluang kerja itu sebenarnya sudah sedemikian luas dibentangkan oleh sang pemilik bumi, Allah Robul Jaliil. Hanya saja sebagian diantara kita tidak sesering mungkin memutar otak dengan menciptakan kreatifitas kerja, yang sebenarnya menjadi bagian dari ke-khalifahan manusia itu sendiri.

Keuntungan Material & Immaterial
Sangat jelas. Dengan munculnya banyak penerbitan yang dilahirkan dari kampus ini, minimal akan mendapat dua keuntungan, material dan immaterial. Secara material, sang penulis akan mendapat royalti sekecil-kecilnya, minimal 12, 5 persen dari penjualan satu buku. Editor, pengumpul naskah, tim kreatif, desain sampul juga akan mendapat royalti 5, 5 persen dari hasil penjualan buku. Jumlah keuntungan ini hanya diambil dari data umum yang sudah diberlakukan di beberapa penerbit. Keuntungan ini baru diambil dari hasil penjualan satu buku. Jauh lebih besar dari itu, sebuah penerbitan mahasiswa bisa menjalin kerjasama dengan institusi lain, seperti PT. Pusri, PT. Pertamina atau PT. Tambang Batubara, atau dengan lembaga lain yang konsen terhadap upaya pencerdasan bangsa melalui penerbitan buku. Dari lembaga-lembaga donor inilah, diluar keuntungan dari hasil penjualan buku, semua tim kreatif yang turut menyusun penerbitan sudah pasti akan mendapat tambahan insentif secara profesional.

Keuntungan immaterial. Kampus Perguruan Tinggi, sebagai institusi yang ikut menerbitkan buku, secara perlahan nilai jualnya akan muncul dipermukaan. Dengan sendirinya, penerbitan mahasiswa--sekaligus akan menaikkan posisi tawar sebuah perguruan tinggi di mata publik. Sebab satu hal yang sering terlupa, ukuran atau standar kualitas intelektual sebuah perguruan tinggi, adalah bagaimana, dan berapa banyak penerbitan karya ilmiah yang sudah diterbitkan? Tentu pertanyaan ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah perguruan tinggi, atau bagi penerbitan mahasiswa, yang bukan hanya konsen untuk menerbitkan majalah, tetapi lebih dari itu bisa membantu proses dinamisasi intelektual di kalangan mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia ini, sudah tentu memerlukan kerjasama. Bukan sama-sama kerja. Sekali lagi, yang dibutuhkan kerjasama bukan sama-sama kerja. Intitusi perguruan tinggi, sebagai lembaga yang memiliki otoritas dalam mengalokasikan dana bagi setiap UKM dan UKK, perlu ada sharing antar penerbitan mahasiswa dan dengan pihak lain yang bisa diajak kerjasama..

Penerbitan mahasiswa, sebagai lembaga yang konsen dalam penerbitan juga menyusun Rancangan Anggaran Biaya (RAB), dalam setiap tahun, baik anggaran penerbitan majalah secara berkala, atau penerbitan buku bagi para dosen. Pentingnya hal ini, akan memudahkan Perguruan Tinggi untuk mengalokasikan dana rutin bagi setiap UKM dan UKK. Namun demikian, Lembaga Penerbitan Mahasiswa tidak serta merta harus tergantung dengan Perguraun Tinggi. Sebab, media (majalah, koran, bulettin), yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan mahasiswa, merupakan potensi besar untuk menggali keuntungan iklan sebanyak-banyaknya. Tentu, tanpa harus meninggalkan pesan moral dan muatan intelektual.

Mengapa ini penting? Sebab, menggantungkan penerbitan hanya dengan anggaran dana perguruan tinggi, maka sebuah Lembaga Penerbitan Mahasiswa, atau penerbitan lain yang ada di dalam kampus, seperti pusat penelitian dan sejenisnya, hanya akan menjadi gudang tesis, desertasi, majalah berkala, yang sama sekali tidak akan memiliki nilai jual. Padahal, jika semua itu digarap dan diolah sedemikain rupa, bukan tidak mungkin institusi perguruan tinggi, seperti IAIN Raden Fatah, akan memunculkan badan usaha baru, yang bergerak dalam penerbitan buku. Kalau satu buah buku saja masing-masing tim kerja mendapat keuntungan materi? Bagaimana jika penerbitan mahasiswa ini juga diberdayakan sebagai lembaga penerbit buku yang secara periodik menerbitkan karya ilmiah yang layak jual di pasaran? Kalkulasi sederhana, seorang editor buku dalam satu bulannya bisa menghasilkan Rp. 10 juta per bulan dari hasil jerih payahnya. Bagaimana dengan para penulisnya? Tentu jauh lebih besar dari itu. Apakah ini bisa dilakukan? Persoalannya adalah, tinggal kita : mau atau tidak?!

Kapan akan memulai?
Upaya menciptakan ekonomi kreatif yang sering digulirkan Presiden SBY ini, sebenarnya bisa dilakukan jauh sebelum forum ini diselenggarakan. Masalahnya kemudian adalah, kita sering berpikir pragmatis. Hari ini menulis, hari ini juga harus mendapat uang. Logika seperti ini, hanya akan layak diterapkan bagi jual beli buah-buah-an atau jual beli ikan asin. Sementara, menjual buku, menjual karya ilmiah membutuhakn energi, strategi dan waktu yang cukup panjang. Bagi dunia bisnis penerbitan, bukan hari ini untuk hari ini, tetapi hari ini untuk seumur hidup. Sebab, karya ilmiah dalam bentuk buku, bukan hanya generasi terkini saja yang dapat menikmati dan membeli. Tetapi sepanjang sejarah dan putaran waktu, bila karya kita bermanfaat bagi orang banyak, maka sudah pasti bau harum karya itu akan tetap abadi walau kita sudah berkalang tanah. Masalahnya kemudian, kapan kita akan memulai, untuk mengusir musuh besar kita yang bernama kemalasan? Jawabnya ada dalam diri kita masing-masing. (*)

BIODATA SINGKAT

IMRON SUPRIYADI. Lahir di Magelang, Jawa Tengah 18 Mei 1973. Selama 12 tahun tinggal di Palembang. Alumnus Fak. Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang 1998. Atif menulis sejak tahun 1993 sejak bergabung di Majalah Ukhuwah IAIN RF. Kolom, Cerpen, Essay, Opini pernah dimuat di beberapa media di Palembang dan media ibu kota Jakarta dan cyber sastra : www.ceritanet.com. Sekarang mengelola Yayasan Pendidikan Islam dan Majalah Anak Seolah “Bintang Pelajar” di Muara Enim—kerjasama dengan Yayasan Keluarga Besar Bukit Asam (YAKASABA) dan Penerbit CV. Tunas Gemilang Palembang. Atifitas lain, mengelola Teater di Tanjung Enim. Sekarang sedang persiapan menggarap film pendidikan durasi 30 menit dengan judul “Sekolah di Di Dalam WC” kerjasama BS Studio dan Batu Hitam Production di Tanjung Enim.

Karya Buku : (Sebagian masih dalam proses editing penerbit)

1. Kumpulan Cerpen “Sedang Tuhan Pun Bisa Mati” (Tenggala Press : 2003)
2. Kumpulan Cerpen “Ketika Iblis Membentangkan Sajadah” (Batuhitam Press : 2004)
3. Novel “Ustdaz di Kampung Maling” (Tunas Gemilang : 2006-2007).
4. Novel “Jilbab Tak Bertuhan” (Tunas Gemilang : 2006)
5. Jurnal “Nikmatnya Mengurus Masjid” (La-Tansa-PTBA – proses editing)
6. Remaja Masjid, tanggung Jawab Siapa? (YNI Press-proses editing)
7. “Islam dan Anak Jalanan” (diolah dari Skripsi - Tunas Gemilang : 2006)
8. Jurnal Khutbah Jumat “Menuju Masyarakat Madani” (PTBA – proses editing)
9. Menjadi Kaya dari Menulis (Tunas Gemilang : 2007)
10. Belajar Jurnalistik itu Gampang (Amik Rama : 2007)
11. Dan lain-lain dalam bentuk naskah Drama, Film dan Sinetron.

**) Disampaikan pada acara Pelantikan LPM Ukhuwah IAIN, 20 Januari 2008 di Aditorium IAIN RF Palembang.
.

Read More..

JURNALISTIK WAJIB MASUK DALAM KURIKULUM


Oleh Imron Supriyadi
(Penulis adalah Jurnalis di Palembang)

Tiga bulan menjelang pergantian tahun, (Oktober–Desember 2006), di Berita Pagi, muncul wacana yang disampaikan beberapa tokoh, tentang beberapa materi, yang diusulkan untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan sekolah. Misalnya, materi kesehatan reproduksi (kespro), pendidikan anti korupsi sampai pentingnya keseimbangan pendidikan agama dan teknologi di setiap pesantren juga menjadi tema yang sedang hangat diperbincangkan.


Mengiringi usulan beberapa pihak tersebut, sepertinya materi ke-jurnalistik-kan (kewartawanan) atau yang lebih dikenal dengan persuratkabaran (Pers), menjadi suatu keharusan, jika kemudian juga diusulkan menjadi salah satu materi yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Tentu, usulan ini bukan sebuah kelatahan, atau sekedar ikut-ikutan dengan para pengusul sebelumnya. Namun berdasar pada upaya membangun dan pengembangan kecerdasan siswa di masa mendatang.

Mengarang sebagai embrio
Mata pelajaran Jurnalistik, secara tidak langsung sebenarnya sudah diterapkan pada era 80-an, melalui mengarang. Mengarang dapat dikategorikan dalam karya jurnalistik Human Interest atau Feature Traveling, (catatan perjalanan) jika secara kebetulan, seorang murid menulis tentang “Liburan di rumah nenek”, dengan mengungkap fakta-fakta yang ditemui di rumah nenek. Tetapi saat itu, mengarang tidak menjadi mata pelajaran khusus, namun tergabung dalam pelajaran bahasa dan sastra (Bahasa Indonesia). Memasuki tahun 2000-an atau bahkan jauh sebelum itu (pasca 80-an), mengarang secara perlahan mulai ditinggalkan. Akibatnya, mengarang terjebak dalam like and dislike (suka dan tidak suka). Ada kecenderungan, mengarang akan sangat bergantung siapa guru yang mengajar Bahasa Indonesia. Jika sang guru “tertarik” dengan dunia mengarang, maka salah satu soal essay-nya adalah mengarang. Demikian pula sebaliknya.

Dalam konteks ke-kinian, mata pelajaran Jurnalistik ini hanya akan diperoleh bagi mahasiswa Akademi Komunikasi, atau yang secara kebetulan mengambil program Jurnalistik. Di IAIN Raden Fatah Palembang, akan ditemui di Fakultas Dakwah jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Bagi Fakultas Ushuluddin, mata kuliah Jurnalistik hanya menjadi mata kuliah wajib pilihan, bukan mata kuliah wajib. Demikian juga di Fakultas Tarbiyah.

Akibat pemberian mata kuliah Jurnalistik yang terkesan “sepintas” ini, mengakibatkan “pengendapan intelektual” yang berdasa warsa, tanpa tersosialisasi melalui karya jurnalistik. Ironisnya, muatan intelektual seorang sarjana sangat banyak tidak dapat tersebar luas, hanya lantaran sang sarjana tidak bisa menuliskan isi otaknya ke dalam lembaran kertas. Kenapa ini terjadi? Karena mereka tidak serius belajar jurnalistik.

Berdasar pada realitas diatas, di tengah kompetisi global seperti sekarang, embrio jurnalistik yang jauh sebelumnya sudah lahir dan diterapkan melalui “mengarang”, dapat dikembangkan kembali dengan memasukan mata pelajaran Jurnalistik dalam kurikulum sekolah. Tentu pada praktiknya nanti, disesuaikan dengan jenjang pendidikannya masing-masing.

Jurnalis orang “istimewa” ?
Jurnalistik, memang bukan mata pelajaran atau mata kuliah yang istimewa. Tetapi, tidak jarang dengan kemampuannya melakukan aktifitas jurnalistik, orang kemudian menjadi “istimewa” di depan publik. Sebab, memiliki ke-ahlian jurnalistik (menulis-red) baik menulis opini, essay, kolom, cerpen, novel dan sejenisnya, setiap orang akan dapat menembus lintas batas, yang belum tentu semua orang dapat menembusnya. Dengan kata lain, siap menjalankan naluri jurnalistik, berari siap berkawan dengan siapa saja, sejak kelas gembel sampai tingkat presiden sekalipun.

Dalam tulisan ini, paling tidak ada beberapa alasan, kenapa jurnalistik “wajib” masuk dalam kurikulum sekolah. Antara lain, Pertama, Mendorong pengembangan daya imajinasi dan intuisi siswa. Daya hayal dan naluri batin merupakan salah satu modal penting dalam proses pencerdasan murid, baik dalam konteks akademis atau non akademis. Ada kecenderungan, siswa yang memiliki daya hayal dan intuisi yang “lebih”, biasanya mempunyai “pengetahuan lain” diluar mata pelajaran di sekolah. Sehingga, secara sosial siswa yang demikian, lebih punya peluang untuk “menggauli” semua kalangan, ketimbang siswa yang hanya menjadi ”anak kampus tulen”. Keingintahuannya terhadap sesuatu biasanya diatas rata-rata, dibanding dengan siswa lainnya. Kuatnya keingintahuan inilah yang kemudian mendorong siswa tersebut untuk terus mencari dan menggali segala sesuatu yang mungkin diluar pelajaran sekolah.

Kedua, Jurnalistik dapat menubuhkembangkan daya kritis dan kepekaan sosial. Secara teori, memang tidak ada bab khusus yang membahas tentang daya kritis dalam konteks kejurnalistikan. Tetapi, biasanya seseorang yang sudah “nyandu” dengan aktifitas jurnalistik (kewartawanan), mempunyai kepekaan dan daya kritis yang lebih dari yang lain. Sehingga tidak jarang, jika di beberapa sekolah, siswa yang mengelola majalah dinding (mading) lebih “pintar” dari yang sama sekali tidak bersentuhan dengan organisasi. Kenapa? Karena ada tuntutan mencari informasi yang terbaru, sehingga tidak akan selalu puas dengan apa yang telah diperoleh hari itu.

Ekses lain yang bakal muncul adalah, jika ada kebijakan sekolah yang tidak populis, seperti kenaikan SPP yang tidak rasional, mereka (siswa pengelola mading) tidak akan segan-segan menulis atau membuat karikatur sebagai sindiran kepada pihak sekolah. Satu hal ini, yang sepertinya akan sulit diterima pihak sekolah. Sebab, tradisi di negeri ini, guru selalu benar, dan murid selalu salah. Namun sebagai bentuk pendidikan moralitas demokrasi di setiap sekolah, logika seperti itu seharusnya sudah dibuang ke tong sampah, untuk kemudian membudayakan tradisi kritik antara murid dan guru.

Ketiga, Menumbuhkembangkan kejujuran. Naluri jurnalistik diakui atau tidak dapat mendorong terbentuknya “kata hati” yang jernih. Atau kalau meminjam istilah Aa Gym manajemen qolbu. Siswa yang telah “menggeluti” dunia jurnalistik, acapkali “tampil beda” di tengah kawan sebayanya. Bukan karena ingin dipuji, tetapi itulah gerak hati yang tengah diikutinya. Termasuk, jika suatu ketika terjadi aksi protes di sekolah. Sama sekali bukan karena dibayar oleh guru atu pihak lain, namun berdasar pada fakta, adanya kebijakan yang salah di sekolah tersebut. Minimal, jika tidak ada pembelaan secara kolektif, siswa tersebut akan menuliskan tentang realitas yang dilihat dan dirasakannya. Baik melalui puisi, koolom atau tulisan apa saja, sebagai bentuk protes terhadap keadaan yang menurutnya tidak tepat.

Keempat, Mendorong siswa untuk membaca. Membaca akan bertambah wawasan. Ini hukum sebab akibat. Karena membaca orang akan bertambah wawasan. Tidak membaca, orang akan berkuranbg wawasannya. Begitulah jurnalistik. Keinginan kuat untuk melakukan aktifitas jurnalistik (menulis-red), mau tidak mau seorang siswa akan terdorong untuk membaca. Kenapa? Karena ia harus menulis dengan data yang benar dan mengolah sumber informasi lainnya. Dengan sendirinya, selama proses kejurnalistikan dilakukan, maka sepanjang itu siswa tersebut akan terus membaca dan bertambah wawasannya. Seorang guru mana yang tidak ingin siswanya mempunyai kecerdasan “lebih” dari siswa sekolah lainnya?

Meringankan beban orang tua
Kelima, Pasive incame. Jika kegiatan jurnalistik sudah menjadi kebiasaan, atau bahkan menjadi kebutuhan, maka ada konsekuensi logis dari keseriusan itu. Apalagi kalau bukan perolehan materi (pasive incame) dalam usia muda. Apakah bisa begitu ? Kenapa tidak? Saat ini, tidak asing lagi jika dibeberapa televisi, radio dan koran memberitakan tentang munculnya cerpenis dan novelis cilik. Dalam usia 9 tahun, sudah mempunyai 5 novel yang tersebar di toko-toko buku di Indonesia. Bisa dipastikan, setiap buku yang terjual si penulis akan mendapat royalty (keuntungan uang) dari setiap penjualan. Apakah itu bukan pasive incame, yang akan meringankan beban orang tua untuk biaya hidup selanjutnya? Jika aktifitas jurnalistiknya dalam usia muda sudah “menghasilkan”, soal uang kuliah tentu bukan masalah lagi. Tinggal saja, para guru dan orang tua memberi semnagat, agar komitmennya melakukan kegiatan jurnalistiknya tidak terhenti di tengah jalan.

Keenam, Prestise sekolah. Seorang guru, atau bahkan sekolah dengan sendirinya akan mendapat acungan jempol dari berbagai pihak, jika salah satu siswanya menjadi seorang novelis, kolumnis atau menjadi penulis yang andal. Minimal, secara politis, nama baik Kepala Sekolah, guru dan jajaran sekolah akan meningkat di kalangan publik. Jika ini terjadi, sekolah dan pengelolanya, tinggal menangguk “keuntungan” nama baik tersebut. Sudah pasti nama sekolah akan mendapat prestise yang “lebih” di mata wali murid.

Ketujuh, kebebasan berekspresi. Dalam teori psikologi, usia muda paling tidak suka dikekang. Psikolog. Prof. Dr. Hj. Zakiah Derajat menyebutkan, usia muda adalah masa pancaroba. Masa pencarian jati diri. Sehingga para pendidiklah (orang tua dan guru), yang wajib memberi arahan, bukan kekang-an. Dengan masuknya jurnalistik dalam kurikulum, akan sangat sesuai dengan perkembangan psikologi remaja, yaitu masa pertumbuhan dalam berekspresi. Minimal, dengan munculnya mata pelajaran jurnalistik di sekolah, akan memberi ruang bagi siswa untuk berkreasi secara bebas, dan menembus “dunia lain” di dalam atau diluar sekolah, sesuai daya imajinasi dan intuisi siswa tersebut.

Kendala
Pada praktiknya, usulan ini memang akan mendapat tangapan pro dan kontra. Itu soal biasa. Sebab, tidak akan semua pihak setuju, tetapi tidak juga semua pihak tidak setuju.Yang setuju juga masih terbagi, setuju ikut arus yang menguntungkan dan setuju siap bekerja keras. Atau yang tidak setuju, karena sama sekali tidak mengerti, atau tidak ingin direpotkan oleh kurikulum baru. Kelompok ini biasanya memakai logika “ada kurikulum baru atau tidak, yang penting setiap bulan gajian. Titik”.

Kendala lain adalah, belum adanya rujukan dari pusat. Dalam sistem birokrasi di Indonesia, dalam konteks Ke-pendidikan memang ada hierarki yang “wajib” diikuti. Namun mengandalkan segala sesuatu dari pusat Jakarta, tentu ini pendapat yang musti diluruskan. Sebab, Jakarta bukan satu-satunya rujukan yang terbaik. Justeru sebaliknya, di daerah inilah masih ada nilai-nilai kearifan yang mesti ditumbuhkembangkan, untuk kemudian diusulkan sebagai rujukan ke tingkat pusat. Apa salah, jika Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Selatan mengusulkan mata pelajaran jurnalistik dimasukkan dalam kurikulum? Tidak mustahil. Semua sangat mungkin. Jika masih juga gagal, toh masing-masing sekolah mempunyai otoritas untuk memasukkan mata pelajaran jurnalistik menjadi muatan lokal. Masalahnya kemudian, bukan pada rumitnya birokrasi itu, melainkan dari kita; mau atau tidak?

Tanggungjawab bersama
Gagasan perlunya mata pelajaran Jurnalistik masuk dalam kurikulum, menjadi tanggungjawab semua pihak. Wartawan sebagai pendorong melalui media, kepala Dinas Pendidikan Nasional dengan otoritasnya, guru dan kepala sekolah melalui komitmennya, walimurid mengalang massa, untuk kemudian mendorong terwujudnya mata pelajaran jurnalistik sebagai bagian dari kurikulum di sekolah.

Sebagai persiapan, semua pihak yang memiliki kompetensi dan komitmen dalam bidang jurnalistik berkumpul, untuk kemudian menyusun kurikulum, sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing. Pada pertemuan inilah, sistem pengajaran dan sylabus mata pelajaran jurnalistik digali, dibahas, diperdebatkan, dikembangkan dan diterapkan dalam kurikulum sekolah.

Tindak lanjut
Memasukkan jurnalistik dalam kurikulm sekolah, tentu bukan jaminan, siswa akan kemudian menjadi penulis andal. Semua membutuhkan proses. Semua perlu waktu. Dan untuk semua itu membutuhkan komitmen dari para pendidik dan dari siswa itu sendiri. Sebab, salah satu diantaranya putus di tengah jalan, maka jurnalistik ini hanya akan menjadi “cerita sejarah”, sebagaimana yang menggejala di beberapa perguruan tinggi. Mereka pernah mengambil mata kuliah Jurnalistik, tetapi mereka tidak bisa mendapat tambahan royalty dari aktifitas jurnalistiknya.

Mengantisipasi kemungkinan buruk sebagaimana yang terjadi di beberapa perguruan tinggi, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh sekolah, atau Yayasan yang menaungi institusi pendidikan, agar siswa mempunyai komitmen untuk tetap melakukan kegiatan jurnalistiknya.

Tahun 2007 Balai Bahasa Palembang, menggagas program “Bengkel Sastra”. Program ini, menjaring bakat dan minat beberapa sekolah, untuk kemudian dibina oleh orang-orang yang mempunyai kompetensi di bidangnya masing-masing. Ada kelompok Cerpen, Teater, Puisi, Musikalisasi Puisi dll. Ini hanya contoh kecil saja. Tetapi paling tidak, gagasan itu dapat diadopsi, dan diterapkan dalam konteks ke-jurnalistikkan di sekolah.

Praktiknya nanti, sesuai dengan sifat ilmu jurnalistik yang praktis aplikatif, (jika tidak dipraktikkan akan hilang), maka pembentukan kelompok pertemuan mingguan melalui kegiatan ektrakurikuler menjadi penting artinya. Dari pertemuan-pertemuan inilah, untuk komitmen masing-masing siswa akan terjaga, sehingga semangat menulis secara perlahan akan terbangun dengan sendirinya. Jika metode ini dapat berjalan secara rutin, dalam rentang waktu 3 – 6 bulan, akan muncul penulis-penulis muda berbakat, yang kelak bukunya siap diterbitkan oleh sekolah dan dijual di setiap toko buku di Indonesia. Semoga, jurnalistik menjadi ‘napas’ dalam kehidupan setiap siswa, sehingga jurnalistik akan menjadi “urat nadi intelektual” di setiap sekolah. Insya Allah.(*)

Tanjung Enim, 3 Januari 2007

Read More..
Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang. Diberdayakan oleh Blogger.
WordLinx - Get Paid To Click