Indonesia Dikepung Skandal: Apakabar Jurnalisme Investigatif?

Ditulis oleh AJI Indonesia Selasa, 19 April 2011 11:08
Skandal demi skandal mewarnai berita media negeri ini. Korupsi pejabat negara, ekspor barang-barang illegal, penyalahgunaan wewenang, dan banyak lagi berita serupa. Berita-berita skandal datang dan pergi begitu saja, jarang dikupas tuntas oleh media pers. Satu skandal muncul, lalu tenggelam oleh berita skandal yang baru. Begitu seterusnya, hingga berita-berita skandal bagaikan mosaik-mosaik cerita yang terpenggal. Berita skandal bagai dongeng yang tak selesai dikisahkan.Lantas, apakabar jurnalisme investigatif? Hal ini coba dibahas dalam sebuah acara diskusi yang diadakan oleh AJI Indonesia dan Anugerah Adiwarta Sampoerna, pada tanggal 29 Maret 2011, di Jakarta.Berikut adalah tulisan yang disarikan dari diskusi tersebut.


Suatu artikel dapat disebut sebagai artikel investigasi, jika merupakan hasil penelusuran (cerita di balik berita), mengungkap masalah sistemik, bukan berita lepas, bermaksud memperbaiki hal-hal yang keliru, menjelaskan masalah sosial yang kompleks, dan mengungkap skandal (korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dll). Sehingga Ia seringkali disebut sebagai “Journalism with an impact”. Eugene Roberts, The Inquirer mengistilahkan dengan, “Take Outs, Project Pieces, Enterprise Stories”. Menurutnya bahwa artikel investigasi seperti seseorang membeli sesuatu dan bisa dibawa pulang. Dalam karya investigasi harus ada fakta baru, membongkar kejahatan yang ditutupi, ada wawancara mendalam, dan harus ada kerja keras menelusuri dokumen-dokumen terkait.

Keterbatasan waktu, dana, sumber info, keraguan editor, tentangan dari perusahaan tempat bekerja, dan ancaman keselamatan, merupakan berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi dalam liputan investigatif. Ciri dan jenis pekerjaan dalam jurnalisme investigatif ini sedemikian spesifik, maka kemampuan yang dibutuhkan juga harus spesifik. Oleh karena itu penghargaannya menjadi luar biasa.

Dalam membuat laporan investigatif diperlukan ketekunan dan mengutamakan kejujuran. Ada jalan panjang untuk sebuah penulisan investigasi yang tidak mudah dan butuh waktu. Kadang-kadang suatu investigasi harus dibikin berbulan-bulan dan pada akhirnya yang dituntut adalah sebuah unsur kejujuran. Sering kali kita sudah menulis begitu panjang dengan sangat lelah tetapi ketika tidak pada kesimpulan yang ingin kita capai, maka kita harus merelakannya untuk dibuang. Ketegaan untuk membuang karya investigasi itu yang membutuhkan kejujuran. Kadang kita sayang pada hipotesa sudah dibangun, kemudian memaksakannya, ini yang menjadi sumber malapetaka.

Menurut Metta Dharmasaputra, wartawan investigasi Tempo, “Jurnalisme investigasi tengah berada di sebuah masa dimana dia tengah dipertaruhkan bisa eksis atau tidak. Ini disebabkan media tengah bergerak dari konvensional menuju modern. Sebelumnya media cetak tergopoh-gopoh mengejar online, tetapi sekarang online tergopoh-gopoh mengejar sosial media dan citizen journalism”.

Sebuah kondisi yang menjadikan kecepatan penyajian berita menjadi tolok ukur utama, daripada kedalamannya sendiri. Jurnalisme investigasi menjadi barang langka.

Metta menjelaskan bahwa berkembangnya sosial media menyebabkan banyak terjadinya distorsi pada persepsi yang kadang-kadang butuh keberanian media untuk meluluskannya. Kadang-kadang apa yang berkembang di publik sudah dibentuk oleh sosial media. Tapi apakah kemudian dia menjadi sebuah kesimpulan jurnalistik itu membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Hal semacam itulah yang terjadi saat ini. Tak terkecuali WikiLeaks.

Menurut Nezar Patria, Ketua Umum AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia, “WikiLeaks cukup popular baik buat publik maupun wartawan. Mungkin wartawan investigasi boleh cemburu jika melihat dokumen-dokumen yang didapat WikiLeaks. Namun, apakah dia hadir sebagai penangkal kekuasaan atau dia justru penantang bagi jurnalisme investigasi”.

John Naughton, seorang ahli media baru di Amerika dan Inggris, mengatakan bahwa apa yang dilakukan WikiLeaks sebenarnya mengakomodir hal yang sudah lama bolong dalam sistem demokrasi di Barat, yaitu peran publik untuk mengakses langsung beberapa informasi yang mereka butuh tahu. Itu yang menjadi alasan WikiLeaks diserang kekuasaan.

WikiLeaks bersandar pada user generated content (leakers), bekerja sama dengan mainstream media (Der Spiegel, Le Monde, Guardian, La Pais, NYT), berupa materi terbuka online bagi public, dan WikiLeaks didukung publik. Bagi Jurnalisme WikiLeaks memberikan tantangan tersendiri. WikiLeaks bersifat independent, non-profit, bermotif ideologis, mengguncang media umum dan relasi kekuasaan, memiliki kalkulasi resiko yang berbeda, serta tak akuntabel bagi regulasi media biasa.

“Saya melihat WikiLeaks sebagai dokumen yang mentah. Itu hanya sumber mentah jadi jangan gunakan WikiLeaks langsung, harus melakukan verifikasi”, pendapat Atmakusuma Astraatmadja, wartawan senior dan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna.

Ketika kita menggunakan sosial media, sesuatu harus dibangun dengan teori jurnalistik yang benar. Semua media bisa asal dia mengikuti kaidah jurnalistik, sepanjang ada verifikasi dia layak menjadi karya jurnalistik. Ini yang kadang-kadang diabaikan media internasional, kadang-kadang dia tidak ada verifikasi juga. Sebenarnya jurnalistik bukan soal platform tapi soal konten. Jadi sepanjang kontennya bisa disajikan dengan kaidah-kaidah jurnalistik, maka tidak peduli platform manapun entah dia sosial media, radio, online, televisi, dia harus didudukkan sebagai karya jurnalistik.

Huffington Post misalnya, awalnya adalah blog lalu kemudian berkembang karena cukup banyak yang mengakses. Lalu dia menyajikan analisis, dia menyajikan juga reportase yang digarap tim, lama-lama Huffington Post ini berkembang menjadi media yang bicara tentang politik Amerika dan bahkan dinominasikan untuk dapat Pulitzer. Jadi ada evolusi dari blog yang tadinya citizen journalism atau sosial media, kemudian berevolusi menjadi media jurnalistik yang terpercaya.

Dalam liputan investigatif tantangannya luar biasa rumit, panjang, mahal, ada ancaman eksternal, ada ancaman internal. Namun, Jurnalisme investigatif tetap dibutuhkan untuk bangkitnya tradisi penggalian berita yang kini terancam lenyap (Lucinda S. Fleeson, peraih Knight Fellow). Jurnalisme investigatif akan senantiasa diperlukan karena lebih dalam dan detail, awet, serta mencerahkan. Banyak jurnalis dalam beberapa liputan investigasinya mendapatkan reward yang bukan dalam arti materi, tapi kepuasan ketika bisa mengungkap apa yang salah di negeri ini. Itulah perubahan yang tidak bisa dibeli. Begitu pentingnya liputan investigatif, sehingga perlu banyak cara untuk membuat bagaimana wartawan mau melakukan liputan-liputan ini. [end]

0 komentar:

Posting Komentar

Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang. Diberdayakan oleh Blogger.
WordLinx - Get Paid To Click